NUSAKAMBANGAN : Bentangan Alam, Sejarah, dan Keanekaragaman Hayati_Penulis : Erdi Yunanto


 Keberadaan Pulau Nusakambangan memiliki arti sebagai benteng penahan gelombang pasang dan angin kencang dari Samudra Indonesia. Sedangkan, perairan di utara pulau tersebut sangat tenang dan jarang angin berembus kencang. 

Sebuah catatan tahun 1913, Nusa Kambangan adalah pulau yang ditutupi tumbuhan tropis dengan sebagian besar bagian selatan yang terjal. Kapal-kapal yang memasuki pelabuhan dari arah timur akan melihat dinding utara Nusa Kambangan berupa empat susunan batang kayu yang teratur dan dua tempat pelindung merupakan bagian dari tanggul. Susunan batang kayu itu berada di Karang Rempak, Banyu Nipa, Karang Tengah dan Sodong. Nusakambangan pertama kali muncul di surat kabar Hindia Belanda sehubungan dengan akomodasi narapidana pada tahun 1905. Kemudian, Residen Banyumas memprakarsai proyek penanaman skala besar di mana para narapidana akan digunakan untuk membuka dan mengembangkan bagian-bagian pulau yang berhutan lebat itu. 

Patutlah bersyukur bahwa Negara Indonesia memiliki keaneragaman hayati yang luar biasa. Di Indonesia ditengarai mempunyai jenis flora dan fauna yang endemik, misalnya terdapat sekitar 40.000 jenis tumbuhan berbunga di Indonesia. Maka banyak yang bisa dimanfaatkan, diduga baru 3-4% yang diketahui potensinya dan sekitar 1.000 jenis diketahui manfaatnya sebagai obat. Walaupun pulau ini kecil,  pulau ini mempunyai potensi sumberdaya alam yang melimpah. Flora di kawasan pulau Nusakambangan mencakup hutan mangrove di Segara Anakan dan hutan topika di Pulau Nusakambangan. Hutan di Pulau Nusakambangan merupakan hutan alam tropika basah daratan rendah, yang pada kondisi sekarang dapat dikatakan tinggi sebagai relict (sisa akhir) dari yang pernah ada karena di Pulau Jawa. Hutan di Pulau Nusakambangan layak disebut sebagai "The Last Real Rain Forest of Java”. Di pulau ini terdapat hutan alam tropis Nusakambangan yang sebagian masih dipertahankan sebagai kawasan Cagar Alam Hutan Tutupan. Cagar alam ini berfungsi sebagai tempat untuk melestarikan plasma nutfah, mempertahankan jenis-jenis endemik serta merupakan habitat satwa liar  dan beberapa jenis burung yang tidak dapat ditemukan lagi di daratan kota Cilacap dan sekitarnya. 

Penulis :  Erdi Yunanto ; Editor : Thomas Sutasman; Tata letak : Netta Pudya ; Desain sampul : Netta Pudya ; Kertas : HVS 75gram ; Cover : soft cover ; ISBN:---------------- ; Shopee : PENERBIT SATRIA PUBLISHER 


Post a Comment

0 Comments